Tim KKN PPM UGM Petakan Desa Biluhu Timur untuk Dorong Pengembangan Pariwisata Lokal

Biluhu Timur, Gorontalo — Langit pagi di Desa Biluhu Timur, Kabupaten Gorontalo, berwarna biru terang. Di kejauhan, ombak kecil berkejaran di bibir pantai, sementara burung camar melintas rendah di atas air. Di tengah suasana tenang itu, sekelompok mahasiswa berbaju lapangan dengan logo KKN PPM UGM sibuk memeriksa peralatan — GPS genggam, kamera, dan buku catatan. Mereka bukan wisatawan, melainkan bagian dari Tim KKN PPM UGM Periode 2 Tahun 2025 Pesisir Gorontalo yang tengah menjalankan program Pemetaan Wilayah Desa untuk Mendukung Pengembangan Potensi Wisata Setempat.

Program ini mencakup tiga hasil utama:

  1. Peta Dusun — menampilkan batas-batas wilayah dan lokasi fasilitas umum.
  2. Peta Penggunaan Lahan — menggambarkan distribusi area pertanian, permukiman, kawasan hutan, dan pesisir.
  3. Peta Potensi Wisata — memetakan lokasi-lokasi daya tarik wisata alam dan budaya desa.

Tujuan dari program ini sederhana namun krusial: menghadirkan data spasial yang akurat sebagai dasar perencanaan pengembangan pariwisata desa secara berkelanjutan.

Proses Pemetaan: Dari Pantai ke Perbukitan

Sejak awal Agustus, tim mulai melakukan observasi lapangan secara menyeluruh. Mereka menyusuri jalan desa, menyeberang kebun kelapa, hingga mendaki bukit untuk mengumpulkan titik koordinat. Proses ini dilakukan bersama pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan pemuda setempat agar hasil pemetaan mencerminkan kondisi faktual sekaligus pengetahuan lokal.

“Setiap titik penting kami rekam dengan GPS. Kami juga memotret dan mencatat deskripsi lokasi. Data ini nantinya diolah menjadi peta yang mudah dibaca dan dipahami,” ujar Koordinator Program sambil menunjukkan layar GPS yang menampilkan titik lokasi pesisir Biluhu Timur.

Tahap berikutnya adalah diskusi bersama warga untuk memvalidasi data. Dalam forum ini, masyarakat diminta memberi masukan, misalnya terkait batas lahan yang sudah lama digunakan, jalur setapak menuju pantai tersembunyi, atau lokasi lama yang dulunya pusat kegiatan adat. Pendekatan partisipatif ini memastikan peta yang dibuat bukan hanya hasil teknis, tetapi juga memiliki nilai historis dan sosial.

 

Tiga Jenis Peta untuk Tiga Kebutuhan

Peta Dusun yang dihasilkan menggambarkan batas wilayah secara jelas, termasuk posisi balai desa, sekolah, masjid, dan jalan utama. Peta ini membantu pemerintah desa dalam pengelolaan fasilitas umum dan perencanaan pembangunan.

Peta Penggunaan Lahan memberikan gambaran detail mengenai pembagian lahan: area pertanian jagung dan kelapa, permukiman warga, kawasan hutan lindung, hingga lahan kosong yang berpotensi dikembangkan. Informasi ini sangat penting dalam tata ruang dan pengelolaan sumber daya.

Peta Potensi Wisata menjadi produk yang paling menarik perhatian warga. Di dalamnya tercantum berbagai titik wisata seperti Pantai Biluhu Timur yang berpasir putih, spot snorkeling dengan terumbu karang alami, titik terbaik untuk menikmati matahari terbenam, serta sentra kerajinan dan kuliner lokal.

“Dengan peta potensi ini, kami bisa merancang rute wisata yang lebih menarik. Wisatawan bisa menikmati panorama laut, kemudian berkunjung ke sentra kerajinan, dan menutup hari dengan kuliner khas di desa,” jelas Kepala Desa Biluhu Timur.

Manfaat Langsung bagi Masyarakat

Bagi warga, program ini memberikan lebih dari sekadar peta. Pemuda desa yang terlibat langsung dalam proses pemetaan mendapat pelatihan dasar penggunaan GPS, membaca peta, dan memahami konsep data spasial.

“Kami senang bisa ikut belajar. Sekarang kami tahu cara membuat peta sederhana. Kalau nanti ada kegiatan serupa, kami bisa melanjutkan tanpa harus menunggu bantuan dari luar,” kata Andi, salah satu pemuda desa.

Pemerintah desa juga melihat manfaat strategis dari hasil pemetaan ini. Potensi wisata yang sebelumnya belum terdokumentasi kini memiliki referensi visual yang dapat digunakan untuk promosi. Selain itu, peta penggunaan lahan dapat menjadi dasar perencanaan pembangunan infrastruktur seperti jalan menuju objek wisata atau area parkir.

Harapan dan Langkah Selanjutnya

Tim KKN berharap peta-peta ini menjadi alat bantu pengambilan keputusan yang efektif. Ke depan, peta potensi wisata dapat diintegrasikan dengan aplikasi digital atau QR Code di titik-titik strategis agar wisatawan lebih mudah mengakses informasi.

“Kami ingin hasil kerja ini berlanjut. Kalau pemerintah desa dan warga bisa memanfaatkan peta ini secara optimal, pengembangan wisata di Biluhu Timur akan lebih terarah dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar salah satu anggota tim.

Bagi Desa Biluhu Timur, pemetaan ini bukan sekadar dokumentasi. Ia adalah langkah awal menuju pengelolaan potensi alam dan budaya secara terpadu, dengan dukungan teknologi dan partisipasi aktif masyarakat.

Sore di Pesisir: Menutup Hari dengan Harapan

Menjelang sore, tim KKN dan warga menutup kegiatan hari itu di tepi pantai. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang memantul di permukaan laut. Anak-anak bermain di pasir, sementara beberapa nelayan baru kembali dari melaut.

Di tengah suasana itu, peta-peta yang masih baru dicetak terhampar di meja panjang di balai desa. Warga berkumpul, menunjuk titik-titik yang mereka kenal, berdiskusi, dan membayangkan masa depan desanya.

Mungkin butuh waktu dan kerja keras untuk mengubah potensi menjadi daya tarik wisata yang terkenal, tapi sore itu, Biluhu Timur sudah memiliki modal penting: pengetahuan akan dirinya sendiri.

 

WhatsApp-Image-2025-08-14-at-20.09.23.jpeg

Ditulis oleh: Galih Candra