Gorontalo, Juli 2025 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode 2 Tahun 2025 yang tergabung dalam Tim Pesisir Gorontalo berhasil melaksanakan program unggulan bertajuk Natural Fertilizer: Pemanfaatan Limbah Organik sebagai Pupuk Organik Cair dengan Bantuan EM4. Program ini merupakan respons atas tantangan pengelolaan sampah organik rumah tangga serta rendahnya akses petani lokal terhadap pupuk berkualitas dan ramah lingkungan.
Dengan memanfaatkan teknologi efektif mikroorganisme (EM4), mahasiswa menggagas pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC) berbasis limbah dapur dan sisa tanaman, sebagai solusi untuk meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang cenderung mahal dan berdampak negatif terhadap lingkungan jangka panjang.
Pelatihan: Edukasi tentang Limbah, EM4, dan Pertanian Berkelanjutan
Kegiatan diawali dengan pelatihan intensif kepada kelompok tani, ibu rumah tangga, serta pemuda desa setempat mengenai pentingnya pengelolaan limbah organik secara terpadu. Mahasiswa menyampaikan materi tentang konsep pertanian berkelanjutan, peran mikroorganisme dalam mempercepat dekomposisi bahan organik, serta manfaat penggunaan EM4 dalam pembuatan pupuk cair yang efektif dan ekonomis.
EM4 (Effective Microorganisms 4) merupakan kultur campuran mikroorganisme menguntungkan seperti bakteri fotosintetik, lactobacillus, dan ragi, yang dapat mempercepat fermentasi bahan organik menjadi larutan kaya nutrisi bagi tanaman. Mahasiswa memperkenalkan cara kerja EM4 serta cara memperoleh atau memperbanyaknya dalam skala rumah tangga.
Peserta diajak memahami bahwa bahan baku pupuk cair sebenarnya tersedia melimpah di lingkungan sekitar, seperti sisa sayur, kulit buah, air cucian beras, hingga kotoran hewan, yang selama ini tidak dimanfaatkan secara maksimal.
Praktik Langsung: Meracik Pupuk Cair Sendiri dari Limbah Dapur
Setelah penyampaian materi, pelatihan dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan pupuk organik cair menggunakan ember tertutup (fermentor sederhana). Mahasiswa membimbing peserta untuk mencampurkan limbah organik dengan larutan EM4, molase sebagai sumber energi mikroorganisme, dan air secukupnya dalam takaran yang tepat.
Fermentasi dilakukan selama 7–14 hari tergantung suhu dan bahan yang digunakan, dan peserta diajari cara memantau kualitas larutan pupuk melalui aroma, warna, dan pH. Dalam praktik ini, peserta juga diberikan tips pemeliharaan dan penyimpanan pupuk agar tidak mudah rusak.
Melalui metode ini, peserta pelatihan tidak hanya memperoleh pengetahuan praktis, tetapi juga memahami bahwa produksi pupuk tidak harus mengandalkan pabrik, melainkan bisa dilakukan secara mandiri di tingkat rumah tangga dengan biaya nyaris nol.
Dampak dan Harapan Jangka Panjang
Program Natural Fertilizer ini telah memberi dampak positif langsung kepada masyarakat. Para petani mengaku senang dengan pengetahuan baru yang mereka peroleh dan melihat potensi penghematan biaya produksi pertanian dengan tidak lagi bergantung penuh pada pupuk kimia.
Selain manfaat ekonomi, program ini juga menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya pengelolaan sampah organik secara bijak. Sampah rumah tangga yang selama ini hanya dibuang begitu saja, kini diubah menjadi sesuatu yang berguna dan bernilai bagi pertanian. Ini menjadi bagian dari upaya pengurangan timbulan sampah dan pencemaran lingkungan di wilayah pesisir.
Kepala dusun setempat menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa. “Program ini sangat bermanfaat, apalagi selama ini banyak limbah dapur yang tidak kami manfaatkan. Sekarang kami tahu cara membuat pupuk sendiri. Semoga bisa kami lanjutkan bersama,” tuturnya.
Sebagai bagian dari keberlanjutan, mahasiswa juga menyusun dan membagikan buku panduan singkat berisi resep dan tahapan pembuatan pupuk cair berbasis EM4, serta menyimpan satu unit alat fermentasi sederhana di balai desa sebagai alat percontohan. Kegiatan ini ditutup dengan diskusi tindak lanjut bersama kelompok tani untuk merancang pelatihan lanjutan dan pembentukan “Bank Limbah Organik” tingkat RT.
Penutup
Program Natural Fertilizer yang dilaksanakan oleh Tim KKN PPM UGM Pesisir Gorontalo menjadi langkah nyata dalam menjawab tantangan lingkungan dan pertanian secara simultan. Dengan mengedukasi dan membekali masyarakat untuk mengolah limbah menjadi berkah, mahasiswa tidak hanya membawa perubahan perilaku, tetapi juga mendorong terciptanya sistem pertanian yang lebih mandiri, murah, dan berkelanjutan.
Diharapkan, inisiatif ini menjadi awal dari gerakan hijau yang tumbuh dari desa, oleh masyarakat, dan untuk masa depan bumi yang lebih lestari.
Ditulis oleh: Galih Candra

