Sekolah Siaga dan Tanggap Darurat: Membangun Kesadaran dan Kesiagaan Tanggap Darurat pada Anak-Anak

Setiap tahunnya, tim KKN-PPM UGM Pesisir Gorontalo memiliki program kerja yang berfokus kepada isu seputar mitigasi bencana dan penanggulangan bencana. Tahun 2025 ini, isu tersebut kembali diangkat oleh tim KKN-PPM UGM Pesisir Gorontalo 2025 dalam program kerja yang berjudul “Sosialisasi Tanggap Bencana dan Pelatihan Mitigasi Bencana.” Program kerja tersebut dibawakan dengan tajuk “Sekolah Siaga dan Tanggap Bencana”, diselenggarakan di SD Negeri 7 Batudaa Pantai, Desa Biluhu Timur, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. Program Sekolah Siaga dan Tanggap Bencana ini menyasar Sekolah Dasar guna mendukung penguatan mitigasi bencana pada lingkungan pendidikan. Kegiatan ini berupa pembelajaran interaktif dan edukasi kebencanaan yang disertai dengan praktik mitigasi bencana dalam bentuk kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. 

Kegiatan Sekolah Siaga dan Tanggap Bencana dilaksanakan pada Senin (21/7/2025), selepas upacara rutin Senin pagi selesai dilaksanakan. Kegiatan ini menyasar anak-anak di kelas 2, kelas 3, dan kelas 4 SD dengan tujuan memberikan pengetahuan serta membangun kesadaran kepada anak-anak mengenai bencana alam, jenis-jenis bencana alam, situasi kebencanaan, dan bentuk mitigasi bencana yang tepat dilakukan. Kegiatan dimulai dengan pemaparan materi edukasi kebencanaan di setiap kelasnya. Setelah pemaparan materi, ditampilkan video animasi mengenai simulasi mitigasi bencana. Pemaparan materi dan video animasi bertujuan untuk memberikan gambaran pada anak-anak terkait bagaimana situasi kebencanaan terjadi serta bagaimana menyelamatkan diri ketika situasi bencana terjadi.

Setelah pemaparan materi dan tontonan video animasi, anak-anak di setiap kelasnya diajak untuk mengikuti pelatihan mitigasi bencana dalam bentuk simulasi bencana alam. Pelatihan ini merupakan bentuk implementasi dari materi yang diajarkan kepada anak-anak di kelas yang dilaksanakan dalam praktik simulasi bencana gempa bumi. Anak-anak diajarkan untuk bagaimana melindungi diri ketika gempa bumi, bahaya-bahaya yang terjadi ketika gempa bumi, lokasi atau daerah yang aman dan rawan ketika gempa bumi terjadi, serta bagaimana cara untuk menyelamatkan diri menuju lokasi yang lebih aman. Kegiatan simulasi juga didukung dengan alarm bahaya dan audio bencana gempa bumi guna membangun situasi simulasi agar mirip layaknya situasi nyata ketika gempa bumi terjadi.

Simulasi dibuka dengan adegan pembelajaran kelas seperti biasa, dimana guru dan tim mahasiswa KKN memberikan pemaparan materi dan tanya jawab di dalam kelas. Setelah itu, alarm bahaya dibunyikan pertanda bahwa bencana gempa bumi sedang terjadi. Adegan ini didukung dengan dimainkannya audio bencana gempa bumi yang memiliki suara getaran dan gemuruh, pecahan kaca, sirine, dan teriakan ricuh. Anak-anak sontak berteriak panik dan berlindung di bawah meja, diikuti oleh mahasiswa KKN yang juga berlindung di bawah meja guru yang ada di depan kelas. Selepas situasi sudah lebih aman dan audio sudah dimatikan, anak-anak diajak untuk berbaris keluar menuju lapangan sekolah sebagai titik kumpul. Anak-anak berjalan keluar meninggalkan kelas sembari membawa tas yang ditaruh diatas kepala mereka sebagai pelindung. Setelah tiba di lapangan, guru dan mahasiswa KKN menghitung jumlah anak-anak dan meminta mereka tetap tenang dan tidak panik.

Siswa-siswa di kelas 2, 3, dan 4 antusias dalam mengikuti kegiatan Sekolah Siaga dan Tanggap Bencana ini. Anak-anak sangat senang dan bersemangat, terutama ketika mengikuti simulasi bencana gempa bumi. Peningkatan kesadaran anak-anak terhadap kesiagaan bencana dan mitigasi bencana tidak hanya hadir di dalam kegiatan simulasi saja, tetapi tertanam di dalam kesadaran anak-anak sebagai suatu nilai yang penting. Terdapat cerita yang unik, dimana 3 hari setelah kegiatan, gempa bumi mengguncang wilayah Pohuwato, Gorontalo pada dini hari tanggal 24 Juli 2025 dengan magnitudo 6,3. Guncangan gempa tersebut terasa hingga Desa Biluhu Timur. Pagi harinya, tim KKN kembali mengisi kegiatan di sekolah dan menanyakan, “Siapa yang tadi pagi kebangun karena gempa?” Anak-anak lantas menjawab penuh semangat bahwa mereka merasakan gempa bumi tersebut. Salah satu anak di kelas lantas membagikan ceritanya, “Saya langsung berlindung di bawah kursi Kak,”.

Cerita tersebut menjadi salah satu bukti nyata tertanamnya nilai kesadaran anak-anak akan pentingnya mitigasi bencana yang dipraktikkan langsung ketika mereka menghadapi situasi bencana gempa bumi. Kesadaran pentingnya mitigasi bencana dapat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana, sehingga anak-anak dapat secara mandiri dan cepat untuk merespon situasi bencana ketika bencana tersebut sedang terjadi. Dalam hal ini, pelatihan simulasi bencana berhasil dalam membangun pengetahuan dan kesadaran kepada anak-anak akan pentingnya mitigasi bencana sebagai tujuan program. Dengan Sosialisasi Tanggap Bencana dan Pelatihan Mitigasi Bencana, harapannya anak-anak sebagai bagian masyarakat dapat berkontribusi dalam mendukung penguatan mitigasi dan tanggap bencana di desa.

DSC02446.JPG

Ditulis oleh: Andaru Sheera Kristianto